Jakarta, 12 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto menyoroti perkembangan sektor pangan Indonesia dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi BRICS dengan menyatakan bahwa Indonesia mulai bertransformasi dari negara yang selama bertahun-tahun mengimpor beras dan jagung menjadi negara yang mampu mengekspor komoditas tersebut. Perubahan itu disebut sebagai hasil dari kebijakan pemerintah yang menempatkan swasembada dan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Prabowo menilai kemampuan memenuhi kebutuhan pangan sendiri sangat penting di tengah kondisi geopolitik dan rantai pasok dunia yang semakin tidak menentu. Ketergantungan terlalu besar terhadap impor dapat meningkatkan kerentanan ketika terjadi konflik, gangguan perdagangan, maupun lonjakan harga internasional. Karena itu, peningkatan produksi domestik terus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus membangun cadangan yang kuat. Ketika produksi menghasilkan surplus yang memadai, Indonesia memiliki peluang menyalurkan sebagian komoditas ke pasar luar negeri.
Dalam pernyataannya di hadapan para pemimpin BRICS, Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu negara yang membutuhkan impor untuk memenuhi kebutuhan beras dan jagung. Kondisi tersebut menjadi tantangan karena Indonesia memiliki wilayah pertanian luas serta jumlah petani yang sangat besar. Pemerintah kemudian memperkuat berbagai program untuk meningkatkan produktivitas dan memastikan petani memperoleh sarana produksi yang diperlukan. Perbaikan irigasi, ketersediaan pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, serta pendampingan menjadi bagian dari strategi yang dijalankan. Pemerintah juga berupaya mempercepat penyelesaian berbagai hambatan distribusi yang dapat menekan produktivitas. Hasil produksi yang meningkat kemudian menjadi dasar pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Prabowo menempatkan capaian tersebut dalam konteks ketahanan nasional yang lebih luas. Pangan dinilai memiliki posisi strategis karena setiap negara harus mampu menjamin kebutuhan dasar penduduknya dalam berbagai kondisi. Krisis geopolitik beberapa tahun terakhir memperlihatkan bahwa rantai pasok global dapat terganggu dalam waktu cepat. Negara pengekspor dapat membatasi pengiriman ketika menghadapi kekurangan di dalam negeri, sementara biaya transportasi dapat meningkat akibat konflik. Situasi tersebut dapat membuat negara yang sangat bergantung pada impor menghadapi tekanan harga dan ketersediaan barang. Indonesia karena itu berusaha memperkuat produksi agar kebutuhan utama dapat dipenuhi dari dalam negeri. Ketahanan pangan dipandang bukan hanya sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga bagian dari stabilitas sosial dan kedaulatan negara.
Peningkatan produksi beras menjadi salah satu indikator yang mendapatkan perhatian pemerintah. Produksi yang kuat memungkinkan cadangan nasional diperbesar sehingga pemerintah memiliki ruang lebih luas untuk melakukan intervensi ketika harga mengalami tekanan. Cadangan juga diperlukan untuk menghadapi kemungkinan gagal panen di wilayah tertentu akibat banjir, kekeringan, maupun bencana lainnya. Dengan persediaan yang mencukupi, distribusi dapat dilakukan dari daerah surplus menuju kawasan yang mengalami kekurangan. Pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen memperoleh harga terjangkau dan petani mendapatkan nilai jual yang layak. Keseimbangan tersebut menjadi penting agar peningkatan produksi dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Jagung juga memiliki peran strategis karena tidak hanya digunakan untuk konsumsi masyarakat, tetapi menjadi bahan utama dalam industri pakan ternak. Ketersediaan jagung berpengaruh terhadap biaya produksi peternakan ayam dan telur yang kemudian memengaruhi harga pangan masyarakat. Ketika produksi domestik tidak mencukupi, impor menjadi salah satu pilihan untuk menjaga kebutuhan industri. Peningkatan hasil panen memberikan kesempatan mengurangi ketergantungan tersebut sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Apabila kebutuhan nasional telah terpenuhi dan terdapat surplus yang berkelanjutan, ekspor dapat menjadi pasar tambahan bagi produksi dalam negeri. Namun, pemerintah tetap perlu memastikan ekspor tidak menyebabkan pasokan domestik berkurang atau harga di tingkat konsumen meningkat.
Transformasi dari importir menjadi eksportir membutuhkan lebih dari sekadar peningkatan produksi pada satu musim panen. Pemerintah harus memastikan produktivitas dapat dipertahankan ketika kondisi cuaca berubah dan kebutuhan masyarakat terus meningkat. Infrastruktur irigasi menjadi salah satu faktor penting karena ketersediaan air menentukan kemampuan petani melakukan penanaman secara konsisten. Perubahan iklim membuat pola hujan semakin sulit diprediksi sehingga pengelolaan sumber air harus semakin efisien. Bendungan, jaringan irigasi, pompanisasi, dan teknologi pertanian dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap musim. Penguatan infrastruktur tersebut juga harus dibarengi pemeliharaan agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Peran petani menjadi pusat dari strategi swasembada pangan yang disampaikan pemerintah. Peningkatan produksi tidak akan berkelanjutan apabila petani tidak memperoleh keuntungan yang memadai dari kegiatan pertanian. Harga pembelian, biaya pupuk, akses pembiayaan, serta kepastian pasar menjadi faktor yang menentukan keputusan petani untuk terus menanam. Pemerintah perlu memastikan peningkatan produktivitas memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan mereka. Regenerasi juga menjadi tantangan karena sebagian generasi muda tidak lagi melihat pertanian sebagai sektor yang menarik. Mekanisasi dan penerapan teknologi diharapkan membuat pertanian menjadi lebih produktif sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi berikutnya.
Dalam forum BRICS, pengalaman Indonesia tersebut juga dapat menjadi bagian dari pembahasan kerja sama pangan di antara negara anggota. BRICS memiliki negara-negara dengan kapasitas produksi pertanian besar sekaligus pasar dengan jumlah penduduk sangat tinggi. Kolaborasi dapat dilakukan dalam pengembangan benih, pupuk, mekanisasi, penelitian, teknologi penyimpanan, serta sistem distribusi. Pertukaran pengetahuan dapat membantu negara anggota meningkatkan produktivitas berdasarkan kondisi geografis masing-masing. Indonesia juga dapat memperluas pasar bagi komoditas pertanian yang telah mengalami surplus. Pada saat yang sama, kerja sama tersebut dapat digunakan untuk memperkuat ketahanan pangan bersama ketika terjadi gangguan pada pasar internasional.
Pemerintah tetap menghadapi tantangan untuk memastikan klaim perubahan dari importir menjadi eksportir tercermin secara konsisten dalam neraca perdagangan pangan. Kebutuhan beras dan jagung Indonesia sangat besar sehingga perubahan kecil dalam produksi dapat memengaruhi keseimbangan pasokan nasional. Pertumbuhan penduduk juga membuat kebutuhan terus meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, keputusan melakukan ekspor harus mempertimbangkan proyeksi produksi, konsumsi, cadangan, dan risiko cuaca pada musim berikutnya. Ekspor yang dilakukan ketika terdapat surplus dapat memberikan keuntungan bagi petani, tetapi ketahanan pasar domestik harus tetap menjadi prioritas. Pengelolaan data produksi yang akurat menjadi kunci dalam menentukan kebijakan tersebut.
Pernyataan Prabowo di KTT BRICS mengenai perubahan Indonesia dari pengimpor menjadi pengekspor beras dan jagung pada akhirnya digunakan untuk menunjukkan pentingnya kemandirian pangan dalam strategi pembangunan nasional. Pemerintah ingin mempertahankan peningkatan produksi agar tidak menjadi capaian sementara yang bergantung pada kondisi satu musim. Infrastruktur pertanian, pupuk, teknologi, pembiayaan, cadangan pangan, dan kesejahteraan petani harus terus diperkuat secara bersamaan. Keberhasilan menjaga surplus secara berkelanjutan dapat memberikan Indonesia ruang lebih besar untuk memasuki pasar ekspor tanpa mengganggu kebutuhan dalam negeri. Di tingkat internasional, capaian tersebut juga memperkuat posisi Indonesia dalam mendorong kerja sama ketahanan pangan di antara negara-negara BRICS dan Global South. Tantangan berikutnya adalah memastikan produktivitas tetap meningkat sehingga kemandirian pangan dapat dipertahankan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi petani dan masyarakat.






