Jakarta, 15 September 2026 – Timnas surfing Indonesia memilih berangkat lebih awal menuju Aichi, Jepang, sebagai bagian dari persiapan menghadapi Asian Games 2026. Skuad Merah Putih dijadwalkan bertolak pada 19 September agar memiliki waktu lebih panjang untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca dan karakter ombak di lokasi pertandingan. Cabang surfing akan dipertandingkan di Pacific Long Beach, Tahara, Prefektur Aichi, pada 25 hingga 28 September, dengan 29 September disiapkan sebagai hari cadangan. Indonesia membawa empat peselancar untuk bersaing dalam nomor putra dan putri. Tim pelatih memasang target satu medali emas, terutama dari sektor shortboard putra. Raihan emas juga memiliki arti penting karena dapat membuka jalan menuju satu tempat di Olimpiade Los Angeles 2028.
Empat atlet yang dipersiapkan Indonesia adalah I Made Pajar Ariana, Bronson Meydi, Jasmine Studer, dan Kya Jo Heuer. Mereka telah menjalani rangkaian persiapan sebelum bertolak menuju Jepang, termasuk latihan dan pengujian papan di Bali. Tim pelatih ingin memastikan setiap atlet memiliki perlengkapan yang sesuai dengan berbagai kemungkinan kondisi laut di Tahara. Setiap peselancar bahkan membawa sedikitnya lima papan dengan karakter berbeda. Pilihan papan dapat menjadi faktor penting karena ukuran dan kekuatan ombak berpengaruh terhadap performa ketika bermanuver. Persiapan teknis tersebut diharapkan membuat atlet dapat lebih cepat menyesuaikan diri ketika tiba di lokasi pertandingan.
Adaptasi ombak menjadi salah satu fokus terbesar karena kondisi Pacific Long Beach berbeda dengan tempat latihan yang biasa digunakan para atlet di Bali. Berdasarkan pemantauan kondisi laut, tinggi ombak di Tahara dapat berada pada kisaran 0,6 hingga 1,2 meter. Sementara itu, sejumlah pantai di Bali dapat menghadirkan ombak sekitar 1,2 hingga 5 meter. Perbedaan tersebut membuat teknik pemilihan ombak, kecepatan, hingga jenis papan perlu disesuaikan. Atlet tidak dapat hanya mengandalkan pola yang biasa digunakan ketika berlatih di Indonesia. Karena itu, kedatangan lebih awal memberikan kesempatan untuk membaca langsung karakter arena sebelum kompetisi dimulai.
Pelatih Timnas surfing Indonesia Dylan Amar sebelumnya menilai kemampuan atlet Indonesia dapat bersaing dengan kekuatan utama Asia, termasuk Jepang. Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi peselancar Jepang dalam berbagai kejuaraan internasional. Namun, tuan rumah memiliki keuntungan karena lebih mengenal karakter ombak dan perubahan kondisi di lokasi pertandingan. Faktor tersebut membuat waktu adaptasi menjadi sangat penting bagi skuad Merah Putih. Tim pelatih ingin atlet mengetahui bagaimana ombak terbentuk pada jam berbeda serta bagaimana arah angin memengaruhi permukaan laut. Informasi langsung dari latihan di arena akan menjadi bagian penting dalam menentukan strategi pertandingan.
Potensi perubahan cuaca juga mendapatkan perhatian khusus dalam persiapan Indonesia. Tim pelatih mengantisipasi kemungkinan munculnya badai atau topan yang dapat mengubah ukuran dan kekuatan ombak setelah 25 September. Kondisi semacam itu dapat membuat karakter arena berubah secara signifikan hanya dalam waktu relatif singkat. Pengujian beberapa jenis papan karena itu dilakukan sebelum keberangkatan. Atlet harus siap menggunakan perlengkapan berbeda apabila kondisi laut berubah dari ombak kecil menjadi lebih besar dan bertenaga. Kemampuan beradaptasi dengan cepat dapat memberikan keuntungan dalam kompetisi yang sangat dipengaruhi faktor alam.
Target terbesar Indonesia ditempatkan pada sektor shortboard putra. Tim pelatih berharap salah satu atlet dapat mencapai pertandingan perebutan emas dan memberikan kontribusi terhadap target kontingen Indonesia. Pada sektor putri, peluang medali juga tetap terbuka dengan sasaran untuk bersaing mendapatkan posisi podium. Namun, persaingan diperkirakan berlangsung ketat karena sejumlah negara Asia memiliki peselancar dengan pengalaman internasional. Jepang menjadi salah satu kekuatan yang harus dihadapi, terlebih mereka bertanding di perairan sendiri. Atlet Indonesia perlu menjaga konsistensi sejak babak awal agar dapat terus melaju menuju fase penentuan.
Asian Games Aichi-Nagoya memiliki arti khusus bagi surfing karena cabang tersebut semakin mendapatkan tempat dalam kalender olahraga multievent internasional. Pertandingan menggunakan sistem penilaian yang mempertimbangkan kualitas manuver, tingkat kesulitan, kecepatan, kekuatan, dan kreativitas atlet ketika memanfaatkan ombak. Dalam satu heat, peselancar dapat memperoleh sejumlah kesempatan untuk mengambil ombak sebelum nilai terbaik menentukan posisi mereka. Kemampuan membaca laut menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis. Atlet harus memilih ombak yang memiliki potensi skor tinggi sekaligus mengatur posisi agar tidak kehilangan kesempatan. Kesalahan mengambil keputusan dapat membuat atlet menghabiskan waktu pada ombak dengan nilai terbatas.
Keberhasilan meraih emas akan memberikan dampak lebih besar karena berkaitan dengan jalur menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Hal tersebut membuat Asian Games bukan sekadar arena perebutan medali bagi para peselancar Indonesia. Kesempatan mendapatkan tempat menuju Olimpiade menjadi motivasi tambahan bagi atlet untuk mencapai performa terbaik. Persaingan menuju Los Angeles diperkirakan semakin ketat seiring meningkatnya kualitas surfing di berbagai negara Asia. Indonesia memiliki modal melalui tradisi surfing yang kuat serta kondisi alam yang mendukung pembinaan atlet. Prestasi di Aichi dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Indonesia pada level internasional.
Secara keseluruhan, Indonesia menargetkan empat medali emas pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kontingen Merah Putih membawa lebih dari 400 atlet yang berlaga dalam 35 cabang olahraga. Target tersebut disusun berdasarkan evaluasi terhadap nomor pertandingan dan peluang atlet Indonesia. Surfing menjadi salah satu cabang yang memiliki kesempatan memberikan kontribusi melalui performa para atlet terbaiknya. Persiapan lebih awal menjadi upaya untuk memperbesar peluang tersebut, terutama karena karakter olahraga surfing sangat bergantung pada kondisi alam. Tim pelatih tidak ingin waktu adaptasi yang terbatas menjadi penghambat ketika persaingan dimulai.
Keberangkatan lebih awal ke Aichi pada akhirnya menjadi bagian penting dari strategi Timnas surfing Indonesia mengejar emas Asian Games 2026. I Made Pajar Ariana, Bronson Meydi, Jasmine Studer, dan Kya Jo Heuer akan memanfaatkan waktu sebelum pertandingan untuk mengenali Pacific Long Beach secara langsung. Adaptasi terhadap ombak kecil, arah angin, perubahan cuaca, serta kemungkinan topan menjadi bagian utama persiapan. Lima papan yang dibawa setiap atlet memberikan pilihan untuk menghadapi karakter ombak yang dapat berubah selama kompetisi. Target emas pada sektor putra menjadi tantangan besar sekaligus peluang untuk mengamankan jalan menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Dengan persiapan teknis dan aklimatisasi yang lebih panjang, Indonesia berharap dapat tampil maksimal ketika persaingan surfing Asian Games dimulai pada 25 September.





