Ajax Amsterdam kembali menunjukkan identitas klasiknya sebagai pabrik talenta muda dengan resmi mempromosikan tiga pemain akademi ke skuad utama musim 2025/2026. Ketiganya adalah Lars de Vries (gelandang serang, 19 tahun), Milan Bakker (bek kanan, 18 tahun), dan Yusuf el-Ahmadi (striker, 20 tahun). Langkah ini sejalan dengan filosofi klub untuk terus mengandalkan produk akademi dalam membangun tim masa depan.
Direktur sepakbola Ajax, Klaas-Jan Huntelaar, menegaskan bahwa ketiga pemain tersebut sudah menunjukkan kualitas luar biasa di level junior. “Mereka memiliki DNA Ajax: teknik tinggi, visi permainan luas, dan keberanian untuk tampil di level tertinggi. Musim depan adalah momen yang tepat bagi mereka untuk berkembang bersama skuad utama,” ujar Huntelaar.
Pelatih baru Ajax, Arne Slot, juga menekankan bahwa regenerasi adalah bagian penting dari strategi klub. “Kami tidak hanya fokus pada transfer mahal. Ajax adalah rumah bagi talenta muda, dan saya yakin ketiga pemain ini bisa memberikan kontribusi nyata di musim debut mereka,” ucap Slot dalam sesi konferensi pers.
Fans Ajax menyambut positif langkah ini. Mereka terbiasa melihat para bintang muda berkembang pesat sebelum kemudian bersinar di panggung Eropa, seperti Frenkie de Jong, Matthijs de Ligt, dan Donny van de Beek. Banyak yang optimis bahwa de Vries, Bakker, dan el-Ahmadi bisa mengikuti jejak sukses para pendahulunya.
Lars de Vries disebut sebagai playmaker kreatif dengan gaya bermain mirip Wesley Sneijder. Milan Bakker dikenal sebagai bek kanan modern dengan kecepatan tinggi dan kemampuan crossing akurat, sementara Yusuf el-Ahmadi mendapat julukan “Van Nistelrooy baru” karena naluri mencetak golnya yang tajam di kotak penalti.
Meski demikian, tantangan besar menanti mereka di Eredivisie dan Liga Champions. Kompetisi senior jelas jauh lebih berat dibanding level junior, baik dari segi fisik maupun mental. Slot menegaskan bahwa mereka akan mendapat menit bermain bertahap agar tidak terbebani ekspektasi.
Analis sepakbola menilai bahwa langkah Ajax ini sangat strategis. Dengan harga pasar pemain muda yang kian melambung, mempromosikan talenta akademi adalah solusi jangka panjang yang efektif. Jika berhasil, klub tidak hanya diuntungkan dari sisi prestasi, tetapi juga finansial saat pemain-pemain tersebut dijual ke klub besar Eropa.
Kini, sorotan tertuju pada ketiga wonderkid ini: akankah mereka menjadi bintang baru yang membawa Ajax kembali ke kejayaan Eropa, atau justru tenggelam di tengah tekanan besar kompetisi senior?