Jakarta, 5 Mei 2026 – Konsep keluarga kembali menjadi sorotan dalam berbagai diskusi sosial modern, terutama ketika nilai-nilai tradisional dihadapkan pada perubahan zaman. Dari perspektif ekonomi hingga refleksi spiritual, keluarga dinilai mengalami tantangan yang semakin kompleks.
Dalam kajian ekonomi, pemikiran Gary Becker menempatkan keluarga sebagai unit rasional yang mengambil keputusan berdasarkan manfaat dan biaya. Teori ini menjelaskan bagaimana faktor ekonomi memengaruhi keputusan pernikahan, jumlah anak, hingga pembagian peran dalam rumah tangga.
Namun, di tengah dinamika modern, muncul fenomena yang disebut sebagai “pembatalan keluarga”, di mana hubungan keluarga menjadi lebih rapuh akibat tekanan ekonomi, perubahan nilai, serta gaya hidup yang semakin individualistik.
Di sisi lain, refleksi spiritual sering mengajak kembali pada makna dasar keluarga sebagai ruang kasih sayang, komitmen, dan tanggung jawab. Jabal Rahmah, yang dikenal sebagai simbol pertemuan dan persatuan, kerap dijadikan metafora tentang pentingnya hubungan yang dilandasi nilai-nilai kemanusiaan.
Perbandingan antara pendekatan rasional dan spiritual ini menunjukkan bahwa keluarga tidak hanya bisa dipahami dari satu sudut pandang. Keseimbangan antara kebutuhan materi dan nilai-nilai emosional menjadi kunci dalam menjaga keutuhan keluarga.
Para pengamat menilai bahwa tantangan terhadap institusi keluarga perlu disikapi dengan pendekatan yang lebih holistik. Tidak hanya faktor ekonomi, tetapi juga aspek sosial, budaya, dan spiritual harus diperhatikan.
Dengan memahami berbagai perspektif tersebut, diharapkan masyarakat dapat menemukan cara untuk menjaga dan memperkuat peran keluarga di tengah perubahan zaman yang terus berlangsung.







