Jakarta, 26 Mei 2026 – Harga rumah swasta tercatat mengalami kenaikan sebesar 0,9 persen pada suku atau kuartal pertama tahun 2026 seiring meningkatnya aktivitas penjualan properti di sejumlah kawasan. Kenaikan tersebut menunjukkan pasar properti masih bergerak positif meski kondisi ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan. Permintaan terhadap hunian, terutama di kawasan perkotaan dan area penyangga kota besar, dinilai tetap cukup tinggi didorong kebutuhan tempat tinggal serta minat investasi masyarakat. Pengembang properti juga disebut mulai lebih aktif meluncurkan proyek baru untuk menjawab permintaan pasar yang terus tumbuh. Situasi ini membuat sektor properti kembali menjadi salah satu indikator penting dalam pergerakan ekonomi nasional dan regional.
Peningkatan harga rumah swasta dipengaruhi beberapa faktor seperti kenaikan biaya konstruksi, harga bahan bangunan, serta permintaan konsumen yang masih stabil pada awal tahun. Hunian kategori menengah dan premium menjadi segmen yang mengalami pertumbuhan cukup signifikan karena banyak diminati kalangan profesional dan investor. Selain itu, sejumlah proyek infrastruktur dan pengembangan kawasan baru juga ikut mendorong kenaikan nilai properti di beberapa wilayah strategis. Pengamat properti menilai tren pembelian rumah saat ini tidak hanya dipicu kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga keinginan masyarakat memiliki aset jangka panjang yang dianggap relatif stabil nilainya. Karena itu, sektor properti masih dipandang menarik meski suku bunga dan biaya hidup terus mengalami perubahan.
Di sisi lain, peningkatan penjualan properti juga didukung strategi promosi agresif dari pengembang yang menawarkan berbagai kemudahan pembelian. Program cicilan ringan, potongan harga, hingga kerja sama pembiayaan dengan perbankan disebut membantu menjaga minat konsumen di tengah kondisi ekonomi yang dinamis. Banyak pembeli rumah pertama memanfaatkan momentum tersebut untuk mulai masuk ke pasar properti sebelum harga naik lebih tinggi di masa mendatang. Sementara itu, investor tetap melihat properti sebagai instrumen investasi yang cukup aman dibanding beberapa sektor lain yang lebih fluktuatif. Aktivitas jual beli yang masih rancak ini turut memberikan dampak positif terhadap sektor pendukung seperti konstruksi dan bahan bangunan.
Pengamat ekonomi menilai pertumbuhan harga rumah yang moderat menunjukkan pasar properti masih bergerak sehat tanpa lonjakan berlebihan yang berisiko memicu ketidakseimbangan pasar. Namun mereka juga mengingatkan pentingnya menjaga keterjangkauan harga rumah agar masyarakat berpenghasilan menengah tetap memiliki akses terhadap hunian layak. Kenaikan harga yang terlalu cepat dikhawatirkan dapat memperbesar kesenjangan kepemilikan rumah di kawasan perkotaan. Karena itu, dukungan kebijakan pemerintah dan pembiayaan perumahan tetap dianggap penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri properti dan kebutuhan masyarakat. Program rumah terjangkau dan pengembangan kawasan baru juga dinilai perlu terus diperluas untuk menjawab kebutuhan hunian yang terus meningkat.
Memasuki pertengahan 2026, pelaku industri properti memperkirakan pasar rumah swasta masih memiliki peluang tumbuh meski tetap menghadapi tantangan dari kondisi ekonomi global dan perubahan kebijakan keuangan. Banyak pengembang kini mulai menyesuaikan strategi dengan menghadirkan hunian yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan generasi muda dan keluarga modern. Selain faktor harga, konsumen saat ini juga semakin memperhatikan lokasi, akses transportasi, hingga konsep lingkungan dalam memilih rumah. Dengan permintaan yang masih stabil dan dukungan sektor pembiayaan yang terus berkembang, pasar properti diperkirakan tetap menjadi salah satu sektor yang cukup aktif sepanjang tahun ini.






