Jakarta, 19 September 2026 – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat strategi menghadapi penyebaran hoaks kesehatan yang semakin masif di berbagai platform digital. Salah satu langkah terbaru dilakukan melalui peluncuran Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan yang dirancang sebagai pedoman kerja bersama dalam mendeteksi, memverifikasi dan merespons informasi menyesatkan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menilai pendekatan konvensional tidak lagi memadai karena penyebaran disinformasi berlangsung sangat cepat dan dapat memengaruhi keputusan masyarakat. Kemenkes ingin mengubah pola penanganan yang sebelumnya cenderung bersifat ad hoc menjadi mekanisme lebih terstruktur dan terorganisasi. Sistem tersebut juga melibatkan koordinasi lintas sektor agar klarifikasi dapat disampaikan sebelum informasi keliru menyebar semakin luas. Langkah itu dilakukan karena dampak hoaks kesehatan tidak hanya berkaitan dengan persepsi publik, tetapi juga berpotensi memengaruhi perilaku masyarakat dalam menjaga kesehatan.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengendalikan informasi kesehatan menyesatkan. Sepanjang Agustus 2018 hingga September 2026, sebanyak 2.622 hoaks kesehatan terdeteksi beredar melalui berbagai platform digital. Jumlah tersebut menempatkan kesehatan sebagai salah satu kategori hoaks dengan tingkat penyebaran tinggi di masyarakat. Isu mengenai imunisasi menjadi salah satu topik yang paling banyak ditemukan dalam informasi menyesatkan tersebut. Selain imunisasi, hoaks juga beredar mengenai tuberkulosis, air susu ibu, vitamin hingga suplemen yang diklaim dapat meningkatkan imunitas tubuh. Kecepatan penyebaran melalui media sosial membuat sebuah informasi yang belum terverifikasi dapat menjangkau banyak pengguna dalam waktu singkat. Kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah memperkuat sistem pemantauan sekaligus mempercepat penyediaan informasi pembanding yang berbasis fakta.
Kemenkes menilai dampak disinformasi kesehatan dapat menjadi serius ketika masyarakat menjadikannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan hoaks tidak hanya memengaruhi pemahaman atau opini masyarakat, tetapi dapat mendorong seseorang melakukan tindakan yang keliru. Dampaknya bahkan dapat berhubungan dengan kesakitan, kecacatan hingga kematian apabila masyarakat menolak atau mengabaikan tindakan kesehatan yang sebenarnya dibutuhkan. Karena itu, pemerintah tidak ingin penanganan hoaks hanya dilakukan setelah sebuah narasi telanjur menyebar luas. Deteksi dini dan respons yang cepat menjadi bagian penting dari mekanisme baru yang sedang dikembangkan. Informasi klarifikasi juga perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami agar dapat menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. Pendekatan komunikasi tersebut diharapkan mampu memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap informasi kesehatan berbasis bukti ilmiah.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian serius adalah penyebaran informasi keliru mengenai imunisasi. Data Direktorat Pengelolaan Imunisasi Kemenkes menunjukkan cakupan imunisasi nasional mengalami penurunan dari 95 persen pada 2023 menjadi 87 persen pada 2024 dan kembali turun menjadi 80 persen pada 2025. Padahal, perlindungan masyarakat membutuhkan cakupan imunisasi sekitar 90 hingga 95 persen yang tercapai secara merata sampai tingkat kabupaten dan kota. Kemenkes menyatakan penyebaran hoaks menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan tersebut. Ketika cakupan imunisasi menurun, jumlah anak yang memiliki perlindungan terhadap penyakit tertentu ikut berkurang sehingga risiko penularan meningkat. Pemerintah karena itu menempatkan komunikasi publik sebagai bagian penting dalam menjaga keberhasilan program imunisasi nasional.
Dampak penurunan perlindungan masyarakat terlihat dari kembali munculnya sejumlah penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi. Kemenkes mencatat sepanjang 2025 hingga 2026 terjadi wabah atau kejadian luar biasa campak di sejumlah daerah yang mengakibatkan 72 anak meninggal dunia. Polio juga kembali ditemukan dalam bentuk wabah di sejumlah wilayah, termasuk Papua, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur pada periode sebelumnya. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika kekebalan kelompok menurun sehingga virus memiliki ruang lebih besar untuk menyebar antaranak. Situasi ini menjadi perhatian karena penyakit seperti polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, sementara campak juga dapat menimbulkan komplikasi serius. Pemerintah menilai layanan kesehatan seperti pemeriksaan, pengobatan dan vaksinasi perlu berjalan bersama dengan penyampaian informasi yang akurat kepada masyarakat. Tanpa komunikasi yang efektif, fasilitas kesehatan yang telah tersedia belum tentu dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melalui Playbook Respons Cepat Penanganan Hoaks Kesehatan, Kemenkes berupaya membangun mekanisme yang menjelaskan pembagian tugas ketika sebuah informasi menyesatkan mulai terdeteksi. Kemenkes bersama Komdigi dan Pokja Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat atau RCCE telah memetakan peran lintas fungsi di kementerian dan lembaga. Pemetaan tersebut mencakup siapa yang melakukan verifikasi, bentuk keluaran yang harus disiapkan, waktu pelaksanaan hingga standar operasional prosedur. Pemerintah juga membutuhkan dukungan pakar yang dapat melakukan verifikasi dengan cepat ketika muncul klaim kesehatan yang memerlukan penjelasan teknis. Unit teknis kemudian dapat menyediakan fakta dan data yang diperlukan sebelum tim komunikasi menyusun materi klarifikasi untuk masyarakat. Setelah itu, jejaring komunikasi diperlukan untuk memperluas penyebaran informasi yang telah diverifikasi. Mekanisme tersebut diharapkan membuat respons pemerintah lebih cepat tanpa mengorbankan akurasi informasi.
Kemenkes juga merencanakan pengembangan microsite khusus sebagai bagian dari infrastruktur penanganan hoaks. Menurut Aji Muhawarman, microsite tersebut nantinya dapat berfungsi dari dua sisi sekaligus. Pada bagian hulu, masyarakat diharapkan memiliki ruang untuk melaporkan informasi kesehatan yang diragukan kebenarannya. Pada bagian hilir, masyarakat dapat mengakses artikel, klarifikasi maupun konten terbaru yang telah diproses oleh tim respons. Kanal penanganan hoaks juga akan diperkuat melalui integrasi dengan Halo Kemenkes sehingga masyarakat memiliki rujukan yang lebih jelas ketika membutuhkan verifikasi. Kehadiran kanal terintegrasi menjadi penting karena masyarakat selama ini menerima informasi kesehatan melalui banyak sumber dengan tingkat kredibilitas yang berbeda. Dengan menyediakan pusat informasi yang mudah diakses, pemerintah berharap proses pengecekan fakta dapat dilakukan sebelum masyarakat mempercayai atau membagikan sebuah klaim.
Penanganan hoaks kesehatan juga dilakukan melalui kolaborasi yang lebih luas dengan Komdigi, Badan Pengawas Obat dan Makanan, organisasi profesi, masyarakat sipil, akademisi, pakar, praktisi hingga platform digital. Pemerintah menilai penyebaran disinformasi tidak dapat ditangani oleh satu institusi karena sumber dan saluran distribusinya sangat beragam. Dalam lokakarya nasional penanganan hoaks kesehatan, para pihak juga melakukan simulasi mekanisme kerja mulai dari tahap deteksi, moderasi, verifikasi hingga penyusunan respons. Ketua Pokja RCCE Rizky Ika Syafitri menekankan bahwa kecepatan dan waktu respons memiliki peranan penting selain ketepatan informasi. Kolaborasi dengan platform digital juga dinilai diperlukan untuk membantu masyarakat mengenali sumber informasi kesehatan yang kredibel. Pemerintah sebelumnya telah membahas pendekatan pencegahan dari hulu, termasuk kemungkinan memperjelas legitimasi akun yang memproduksi konten kesehatan. Strategi tersebut diharapkan dapat membantu pengguna internet membedakan informasi profesional dengan klaim kesehatan yang tidak memiliki dasar memadai.
Meluasnya hoaks kesehatan membuat kemampuan masyarakat menyaring informasi menjadi bagian penting dari upaya perlindungan kesehatan publik. Tingginya penetrasi internet membuat informasi dapat tersebar jauh lebih cepat dibandingkan mekanisme klarifikasi konvensional, sehingga masyarakat juga perlu berperan aktif memeriksa sumber sebelum mempercayai sebuah klaim. Informasi mengenai obat, vaksin, penyakit, suplemen maupun metode pengobatan sebaiknya dibandingkan dengan penjelasan dari tenaga kesehatan dan sumber resmi yang memiliki dasar ilmiah. Kemenkes berharap Playbook Respons Cepat dapat memperkuat koordinasi pemerintah sekaligus memperpendek waktu yang diperlukan untuk merespons narasi menyesatkan. Penguatan regulasi, tata kelola, kanal pengaduan, mekanisme verifikasi dan jaringan penyebaran klarifikasi akan dijalankan secara terintegrasi. Pemerintah juga mendorong peningkatan literasi kesehatan agar masyarakat tidak mudah mengambil keputusan berdasarkan informasi yang belum terbukti. Dengan sistem respons yang lebih terstruktur dan partisipasi masyarakat, penyebaran hoaks kesehatan diharapkan dapat ditekan sebelum menimbulkan dampak yang lebih luas.





