Gelombang protes digital mulai bergema di berbagai belahan dunia. Jutaan konsumen kini secara terbuka menuntut perusahaan teknologi untuk membuka cara kerja algoritma yang mengatur konten, rekomendasi, dan keputusan otomatis di platform digital.
Tuntutan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa algoritma sering kali bias, tidak transparan, dan berpotensi memanipulasi perilaku pengguna tanpa disadari.
Latar Belakang Gerakan Transparansi Algoritma
Dalam beberapa tahun terakhir, algoritma menjadi “otak” di balik banyak layanan digital — dari media sosial, e-commerce, hingga perbankan online. Namun, laporan dari Digital Rights Watch menunjukkan:
-
68% pengguna merasa tidak tahu bagaimana algoritma memutuskan apa yang mereka lihat.
-
54% khawatir rekomendasi algoritma digunakan untuk mendorong perilaku konsumtif berlebihan.
-
42% percaya algoritma dapat memperkuat polarisasi politik.
Tuntutan Konsumen Digital
-
Transparansi Publik – Penjelasan yang jelas tentang bagaimana algoritma bekerja, termasuk faktor-faktor penentu rekomendasi.
-
Kontrol Pengguna – Fitur untuk mematikan atau menyesuaikan algoritma sesuai preferensi pribadi.
-
Audit Independen – Pemeriksaan rutin oleh pihak ketiga untuk memastikan algoritma bebas dari bias diskriminatif.
-
Hak Banding Digital – Mekanisme bagi pengguna untuk menantang keputusan otomatis yang berdampak negatif, seperti penolakan pinjaman atau penghapusan konten.
Respons Perusahaan Teknologi
Beberapa raksasa teknologi telah mulai merespons:
-
Meta mengumumkan uji coba “mode transparansi” di Instagram dan Facebook.
-
Google berjanji memberikan laporan publik tahunan terkait kinerja dan perubahan algoritma pencarian.
-
Alibaba menawarkan fitur untuk melihat alasan rekomendasi produk di platform e-commerce mereka.
Namun, aktivis menilai langkah ini masih setengah hati dan perlu komitmen yang lebih kuat.
Regulasi di Depan Mata
Uni Eropa melalui AI Act telah mengatur kewajiban transparansi algoritma untuk layanan digital besar, sementara Amerika Serikat dan Australia sedang menggodok undang-undang serupa.
Kesimpulan
Tuntutan transparansi algoritma mencerminkan meningkatnya kesadaran konsumen terhadap dampak teknologi pada kehidupan mereka. Tahun 2025 bisa menjadi titik balik di mana perusahaan yang gagal bersikap transparan akan kehilangan kepercayaan publik, sementara yang berani membuka “kotak hitam” algoritma akan memenangkan hati pengguna.