Caracas, 30 Agustus 2026 – Venezuela dan Amerika Serikat menyepakati kerja sama strategis di sektor energi yang ditujukan untuk meningkatkan kembali produksi minyak negara tersebut. Kesepakatan bilateral itu akan berlaku selama 25 tahun dan mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis.
Pelaksana Tugas Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyebut kesepakatan tersebut sebagai langkah bersejarah untuk menghidupkan kembali industri minyak sekaligus meningkatkan pendapatan negara. Target produksi dari proyek tersebut dipatok lebih dari 1,5 juta barel per hari.
Kembangkan 17 Ladang Minyak
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 17 ladang minyak strategis, termasuk delapan blok baru di kawasan sabuk minyak Orinoco. Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan minyak paling penting di Venezuela.
Pemerintah Venezuela menyatakan pengembangan akan dilakukan dengan melibatkan modal dan teknologi asing. Sejumlah perusahaan energi internasional juga disebut berpotensi terlibat dalam pengembangan proyek, termasuk Chevron, Repsol, Eni, Shell, dan BP.
Kesepakatan itu diarahkan untuk meningkatkan produksi sekaligus memperbaiki infrastruktur industri minyak Venezuela yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan investasi dan kapasitas produksi.
Venezuela Klaim Tetap Pegang Kedaulatan
Rodríguez menegaskan Venezuela tetap mempertahankan kepemilikan dan kedaulatan atas sumber daya alamnya meskipun Amerika Serikat memperoleh akses besar terhadap cadangan minyak Venezuela.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menggambarkan kesepakatan tersebut sebagai salah satu perjanjian minyak terbesar dalam sejarah. Menurut pengumuman dari pihak AS, kerja sama tersebut memberikan akses kepada perusahaan dan investor AS terhadap cadangan minyak Venezuela yang mencapai lebih dari 65 miliar barel.
Pemerintah Venezuela menilai keterlibatan investor dan perusahaan asing diperlukan untuk menghidupkan kembali sektor energi nasional tanpa menghilangkan kendali negara atas sumber daya strategis.
Pendapatan Negara Bisa Capai US$209 Miliar
Rodríguez memperkirakan Venezuela dapat memperoleh sekitar US$209 miliar dari kesepakatan tersebut. Perhitungan itu menggunakan asumsi harga minyak sekitar US$65 per barel.
Pemerintah Venezuela memperkirakan sekitar US$19 dari setiap barel yang diproduksi dan dijual akan masuk langsung ke negara melalui mekanisme royalti dan pajak keuntungan.
Untuk delapan blok baru yang dikembangkan di sabuk Orinoco, pemerintah menetapkan royalti minimum sebesar 16 persen dan pajak keuntungan sebesar 34 persen.
AS Ingin Perkuat Pasokan Energi
Dari sisi Amerika Serikat, kesepakatan tersebut membuka peluang untuk mendapatkan akses lebih besar terhadap salah satu cadangan minyak terbesar dunia. Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, tetapi produksinya saat ini masih jauh di bawah kapasitas potensial.
Peningkatan produksi Venezuela juga berpotensi menambah pasokan minyak global. Bagi Washington, tambahan pasokan tersebut dapat membantu memperkuat ketahanan energi dan memberikan tekanan terhadap harga bahan bakar dalam jangka panjang.
Trump sebelumnya mengatakan kesepakatan itu akan meningkatkan pasokan minyak AS sekaligus membantu menekan harga bensin bagi masyarakat Amerika.
Tantangan Besar Menanti
Meski memiliki potensi besar, pengembangan sektor minyak Venezuela tetap menghadapi berbagai tantangan. Infrastruktur energi negara tersebut membutuhkan investasi besar setelah bertahun-tahun mengalami penurunan produksi.
Selain persoalan teknis dan pendanaan, kesepakatan dengan AS juga menimbulkan perdebatan politik di Venezuela. Sebagian pihak mempertanyakan besarnya keterlibatan Amerika Serikat dalam sektor strategis negara.
Namun, pemerintah Rodríguez menilai kerja sama tersebut dapat menjadi momentum pemulihan ekonomi. Dengan masa berlaku 25 tahun dan target produksi lebih dari 1,5 juta barel per hari, kesepakatan ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi kebangkitan industri minyak Venezuela.





